Aswaja dan Islam Nusatara ( Makalah)
MAKALAH
ASWAJA
ASWAJA DAN ISLAM NUSANTARA
Dibuat untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Aswaja
yang diampu oleh :
Agus Nur Soleh,M.Pd
DISUSUN
OLEH:
·
INDAH PERMADANI
·
NUR KHOTIJAH
PRODI
PGMI A1
FAKULTAS
TARBIYAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA KEBUMEN
Jl.
Tentara Pelajar No. 55B Kebumen 54312 Telp/Fax: +62-287-385902
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur
penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan
karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Aswaja dan Islam Nusantara”. Walaupun dari sisi pengerjaan penulis
tidak luput dari kekurangan dan keterbatasan.
Maksud dan tujuan
dalam pembuatan makalah ini di buat, dalam rangka untuk memenuhi syarat tugas
pada mata kuliah Aswaja.
Seiring dengan usaha kerja keras penulis, tidak lupa penulis mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu, karena tanpa bimbingan dan
dorongannya, penulis tidak akan menghasilkan karya tulis ini dengan baik.
Penulis menyadari
dengan sepenuhnya akan penulisan makalah ini yang masih memiliki kekurangan-
kekurangan dan sangat jauh sekali dari kata sempurna. Hal tersebut mungkin di
karenakan penulis masih sangat terbatas, dari segi kemampuan maupun ilmu
pengetahuan. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya
dapat membangun dari pembaca semua.
Akhir kata penulis
menyampaikan terima kasih. Semoga makalah ini dapat di terima dengan baik dan
mempunyai tanggapan yang positif. Harapan selanjutnya, semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca semua. Amin Ya Robbal Alamin.
Kebumen, 07 Desember 2019
Penulis,
BAB I
PENDAHULUAN
Islam merupakan agama
yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW pada sekitar abad ke-7 Masehi yang berpusat
di Mekah-Madinah. Agama ini berkembang dengan begitu cepat setelah kurang lebih
23 tahun dari kelahirannya. Setelah Rasulullah wafat kepemimpinan umat Islam
diganti oleh Khalifah Abu Bakar al-Siddiq, lalu dilanjutkan Khalifah Umar bin
Khattab. Pada masa Umar Islam mulai tersebar ke Syam, Palestina, Mesir, dan
Irak. Kemudian pada masa khalifah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Bani
Umayah, dan Bani Abasiyyah Islam telah menyebar ke Tiongkok Cina bahkan ke
seluruh penjuru dunia.[1]
Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin atau rahmat bagi
seluruh alam. Hal ini menyebabkan islam mudah diterima dimasyarakat karena
ajarannya mudah dimengerti dan tidak ada paksaan untuk menganutnya. Di dalamnya
tidak ada perbedaan ras, suku, negara, dan sistem kasta. Semua dipandang sama
hanya derajat ketaqwaan saja yang membedakan. Ajaran ini tersebar melalui jalur
perdagangan, pendidikan, dan budaya bukan melalui jalur penjajahan atau
kekerasan.
Islam hadir dengan membawa kedamaian ditengah tengah
manusia. Membela pada yang lemah, membebaskan perbudakan dan memperbaiki tatanan
sosial menjadi lenih baik. Mengubah zaman jahiliyah menuju ke zaman ya ng
terang benderang.
BAB II
PEMBAHASAN
Nabi Muhammad Saw
mengungkapkan bahwa agama islam memiliki lima ajaran pokok, yaitu “Islam adalah
bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan
Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan puasa dan menunaikan
haji—bagi yang mampu”. Selain
itu Islam memiliki dua pedoman yang selalu dirujuk, Alquran dan Hadits.
Keduanya memuat ajaran yang membimbing umat manusia beserta alam raya ke arah
yang lebih baik dan teratur.[2]
Nusantara adalah istilah yang
menggambarkan wilayah kepulauan dari Sumatera hingga Papua. Kata ini berasal
dari manuskrip berbahasa Jawa sekitar abad ke-12 sampai ke- 16 sebagai konsep
Negara Majapahit. Sementara dalam literatur berbahasa Inggris abad ke-19,
Nusantara merujuk pada kepulauan Melayu. Ki Hajar Dewantoro, memakai istilah
ini pada abad 20-an sebagai salah satu rekomendasi untuk nama suatu wilayah
Hindia Belanda. Karena kepulauan tersebut mayoritas berada di wilayah negara
Indonesia, maka Nusantara biasanya disinonimkan dengan Indonesia. Istilah ini,
di Indonesia secara konstitusional juga dikukuhkan dengan Keputusan Presiden
(Kepres) MPR No.IV/MPR/1973, tentang Garis Besar Haluan Negara Bab II Sub E.
Kata Nusantara ditambah dengan kata wawasan.4
Melalui pengertian
Islam dan Nusantara di atas, maka Islam Nusantara merupakan ajaran agama yang
terdapat dalam Alquran dan Hadits yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad yang
diikuti oleh penduduk asli Nusantara (Indonesia), atau orang yang berdomisili
di dalamnya. Namun jika dikaitkan dengan pandangan setiap muslim atau
organisasi Islam tertentu, seperti NU, konsep Islam Nusantara akan menjadi
kompleks.
Hal ini terlihat ketika Islam
di Nusantara sejak awal masuk,tumbuh, dan berkembang merupakan Islam Ahlussunnah
wal Jamaah. Umat Islam di Nusantara menyakini dan mengamalkan ajaran Islam Ahlusunnah
wal Jamaah yang ada itu dapat dibuktikan dari tradisi keberagaman umat
Islam Nusantara yang masih terjaga sampai saat ini dan dari dokumen sejarah
yang dicatat oleh para ulama asal Nusantara dalam kitab-kitab yang mereka
tulis.[3]
Dalam penyebaran Islam di Nusantara terdapat strategi
yang dilakukan sehingga Islam lebih mudah diterima dibandingkan dengan agama
lain. Strategi yang dilakukan bermacam-macam dan tidak terdapat unsur paksaan.
Di antara strategi penyebaran islam tersebut adalah
Pertama, melalui jalur perdagangan. Awalnya
Islam merupakan komunitas kecil yang kurang berarti. Interaksi antar pedagang
muslim dari berbagai negeri seperti Arab, Persia, Anak Benua India, Melayu, dan
Cina yang berlangsung lama membuat komunitas Islam semakin ber-wibawa, dan pada
akhirnya membentuk masyarakat muslim. Selain ber-dagang, para penyebar agama
Islam dari berbagai kawasan tersebut, juga menyebarkan agama yang dianutnya, dengan
menggunakan sarana pelayaran.
Kedua, melalui jalur dakwah bi
al-hāl yang dilakukan oleh para muballigh yang merangkap tugas menjadi
pedagang. Proses dakwah ter-sebut pada mulanya dilakukan secara individual.
Mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban syari’at Islam dengan memperhatikan
kebersihan, dan dalam pergaulan mereka menampakan sikap sederhana.
Ketiga, melalui jalur perkawinan,
yaitu perkawinan antara pedagang Muslim, muballigh dengan anak bangsawan
Nusantara. Berawal dari kecakapan ilmu pengetahuan dan pengobatan yang didapati
dari tuntunan hadits Nabi Muhammad Saw. Ada di antara kaum muslim yang
berani memenuhi sayembara yang diadakan oleh raja dengan janji, bahwa barang
siapa yang dapat mengobati puterinya apabila perempuan akan dijadikan saudara,
sedangkan apabila laki-laki akan dijadikan menantu. Dari perkawinan dengan
puteri raja lah Islam menjadi lebih kuat dan berwibawa.
Keempat, melalui jalur pendidikan. Setelah
kedudukan para peda-gang mantap, mereka menguasai kekuatan ekonomi di
bandar-bandar seperti Gresik. Pusat-pusat perekonomian itu berkembang menjadi
pusat pendidikan dan penyebaran Islam. Pusat-pusat pendidikan dan dakwah
Islam di kerajaan Samudra Pasai berperan sebagai pusat dakwah pertama yang
didatangi pelajar-pelajar dan mengirim muballigh lokal, di antara-nya mengirim
Maulana Malik Ibrahim ke Jawa.
Kelima, melalui jalur kultural.
Awal mulanya kegiatan islamisasi selalu menghadapi benturan denga tradisi Jawa
yang banyak dipengaruhi Hindu-Budha. Setelah kerajaan Majapahit runtuh kemudian
digantikan oleh kerajaan Islam. Di Jawa Islam menyesuaikan dengan budaya lokal
sedang di Sumatera adat menyesuaikan dengan Islam. [4]
Islam terus berkembang dan menyebar dari masa ke masa hingga
sekarang melalui tahapan-tahapan dan jasa para mubaligh. Meskipun demikian
masih terdapat perbedaan-perbedaan dalam cara ibadah disebabkan oleh faktor
kultural. Maka apa yang harus dilakukan oleh para penerus bangsa Indonesia
untuk dapat menyatukan pemahaman tentang Islam.
Budaya peninggalan zaman kerajaan baik Hindu maupun kerjaan Islam
sampai sekarang masih ada yang dilestariakan. Apalagi islam yang notabene
Nahdlatul Ulama sebagai salah satu organisasi keagamaan yang selalu menjaga
tradisi didaerahnya masing-masing dengan baik.
Adat istiadat pastinya disetiap daerah mempunyai ciri khas
masing-masing. Tidak mungkin sama terkecuali mempunya karakter masyarakat yang
hampir sama dan daerah yang berdekatan. Adat istiadat yang di mulai sebelum
datangnya islam hingga saat ini islam sudah menjadi salah satu pilihan agama
yang harus di pilih salah satu sebagai pilihan agama di Indonesia.
Seperti
yang telah dikatakan oleh Gus Dur, “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita
jadi budaya Arab. Bukan untuk dalam aku jadi ana,
sampeyan jadi antum, sedelur jadi akh. Kita pertahankan milik kita, kita harus
filtrasi budayanya, tapi bukan ajarannya…” Dalam bahasa KH. Said Aqil Siradj,
menjadikan Islam bukan sebagai aspirasi, tetapi
menjadi inspirasi untuk membangun peradaban.Gagasan Gus
Dur ini disambut oleh anak-anak muda NU dengan penuh gairah. Di masanya, Gus
Dur melihat upaya arabisasi Islam Indonesia sangat kental, hingga menyebabkan
sebagian kalangan Islam hilang kebanggaannya dengan kebudayaan sendiri.[5]
Seni budaya dan tradisi lokal yang bernafaskan Islam sangat banyak
dan memiliki manfaat terhadap penyebaran agama Islam. Untuk itulah sebagai
generasi Islam, maka kita harus mampu mengapresiasikan diri terhadap
permasalahan tersebut. Bentuk dari apresiasi terhadap seni budaya dan tradisi tersebut
adalah dengan merawat, melestarikan, mengembangkan, simpati dan menghargai
secara tulus atas hasil karya para pendahulu.
Umat Islam adalah umat yang tidak hanya memikirkan urusan akherat,
tetapi juga memikirkan kehidupan dunia. Kehidupan di dunia tidak hanya
kebutuhan yang bersifat fisik. Manusia juga membutuhkan sentuhan-sentuhan
rohani dan kebutuhan tersebut bisa melalui musik atau seni. Karena seni yang
baik mengandung keindahan.
Tradisi lokal juga ada yang baik dan yang buruk. Tradisi yang baik
kita pelihara sehingga menjadi warisan budaya nasional. Dan tradisi yang buruk
dibuang agar tidak ditiru oleh generasi berikutnya. Sehingga Islam yang ada di
Nusantara ini bisa dikatakan unik atau berbeda dengan Islam di Negara lain.
Bahkan Islam di negara asal kelahiranya yaitu di Makkah Al Mukaromah.
Karena sudah ada kulturasi dari budaya penginggalan agama sebelumnya agar dalam
dakwah Islamiyahnya bisa diterima oleh masyarakat terutama masyarakat
biasa. Maka dari itulah akhirnya muncul sebutan Islam Nusantara, Islam ala
Nusantara.
Ahlussunnah Wal Jamaah Annahdliyah sebagai salah satu pedoman
Islam yang berada di Indonesia ini bagian dari corak Islam yang tetap menjaga
dan melestarikan nilai-nilai budaya yang sudah dikulturasikan dengan memasukkan
nilai-nilai syariat Islam sebagai media dakwah kepada masyarakat, sehingga
mudah diterima oleh masyarakat dan dilestarikan sampai pada generasi penerus.
Konsep
Aswaja dalam Islam nusantara seperti halnya dalam kontek akidah adanya
peringatan Maulid Nabi, Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW dengan kenduri, ziarah
makam auliya atau tokoh agama, adanya pendidikan akidah berupa sopan
santu terhadap guru yang berkulturasi dengan adanya adat sopan santun
peninggalan kerajaan, kegiatan istighosah bersama menjelang Ujian Nasional
maupun menjelang puasa ramadhan dan beberapa kegiatan lainnya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Islam Nusantara
merupakan ajaran agama yang terdapat dalam Alquran dan Hadits yang dipraktekkan
oleh Nabi Muhammad yang diikuti oleh penduduk asli Nusantara (Indonesia), atau
orang yang berdomisili di dalamnya. Namun jika dikaitkan dengan pandangan
setiap muslim atau organisasi Islam tertentu, seperti NU, konsep Islam
Nusantara akan menjadi kompleks.
Ahlussunnah Wal Jamaah Annahdliyah sebagai salah satu pedoman
Islam yang berada di Indonesia ini bagian dari corak Islam yang tetap menjaga
dan melestarikan nilai-nilai budaya yang sudah dikulturasikan dengan memasukkan
nilai-nilai syariat Islam sebagai media dakwah kepada masyarakat, sehingga
mudah diterima oleh masyarakat dan dilestarikan sampai pada generasi penerus.
DAFTAR PUSTAKA
Hasbullah.2001. Sejarah Pendidikan
Islam di Indonesia Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, (Jakarta:
PT Raja Grafindo Nusantara).
Khabibi
Muhammad Lutfi; Islam Nusantara; Relasi Islam dan Budaya Lokal, Jurnal
Shahih Vol 1, Juni 2016. h. 3
Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Khazanah Aswaja,
(Surabaya: Aswaja NU Center PWNU JawaTimur,2016), iii
Ahmad Syafrizal,
Sejarah Islam Nusantara, (Jurnal Islamuna volume 2 nomer 2 desember 2015
) 241
[1]
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Lintas Sejarah Pertumbuhan
dan Perkembangan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Nusantara, 2001),hal 3.
[2] Khabibi Muhammad Lutfi; Islam Nusantara; Relasi Islam
dan Budaya Lokal, Jurnal Shahih Vol 1, Juni 2016. h. 3

Komentar
Posting Komentar